Powered By Blogger

Sabtu, 24 September 2011

Asal Muasal Nama Kampung Pesantren


Asal Muasal Nama Kampung Pesantren
Suatu hari saya sedang mengikuti suatu acara Tahlilan tetangga saya yang baru meninggal, ada seorang Tokoh Masyarakat yaitu Bapak Aspani, bercerita :
Dulu, sekitar 10 tahun yang lalu, Bapak Aspani menghadiri pengajian di kediaman Kyai Ayip Muh (Ulama Besar di Cirebon), Bapak Aspani di tanya oleh Kyai Ayip Muh, Sampean kuh sing ndi “Kamu itu dari mana”, lalu dijawab “Saking Kampung Pesantren”. Lalu Kang Ayip Muh bertanya lagi, “Weruh beli sejarah’e Kampung Pesantren kuh”, Bapak Aspani kaget, lalu menjawab Nggak tahu.
Dan saat itu diceritakanlah Ssal Muasal Kampung Pesantren.

Dahulu kala, sekitar 200 tahun yang lalu, wilayah ini masih di penuhi hutan belantara, sedikit sekali penduduk yang tinggal di wilayah Pesantren. Pada saat itu salah satu keluarga pemuka agama “Kyai” yang bernama Kyai Abdullah, mendirikan Pondok Pesantren di wilayah Barat Kampung Pesantren.
Pada awal didirikannya Pondok Pesantren, banyak sekali halangan dan rintangan di dilalui oleh Kyai Abdullah dan para santrinya, karena pada masa itu di wilayah yang belum mempunyai nama tersebut masih banyak dipenuhi oleh orang-orang yang beragama Non Muslim seperti Hindu dan Budha.
Pada saat Kyai Abdullah sedang syiar Agama, para pemuka agama non Muslim tersebut merasa terganggu dan mempunyai hasyrat untuk menghentikan Syiar yang dilakukan Kyai Abdullah.
Sampai suatu saat sumur yang biasa di gunakan oleh Kyai Abdullah dan para santrinya untuk kegiatan agama, di lempar seekor “Anjing”. Karena tahu sumur yang biasa digunakan untuk kegiatan agama di dalamnya ada seekor Anjing, maka para santripun, enggan untuk mengambil air dari sumur tersebut karena telah bercampur dengan najis.
Oleh karena desakan dan ancaman yang dilakukan oleh orang-orang non Muslim, Kyai Abdullah dan keluarganya meninggalkan kampung tersebut, dan bermukim di Mekkah.
Oleh karena perginya Kyai Abdullah ke tanah Mekkah dan meninggalkan Pondok Pesantren yang telah dibangunnya, maka orang-orang menyebut kampung tersebut dengan nama “Kampung Pesantren” karena pada waktu itu “Pondok Pesantren” yang pertama didirikan di wilayah Cirebon adalah Pondok Pesantren yang ada di wilayah Kelurahan Kalijaga ini atau yang sekarang disebut dengan Kampung Pesantren.
Diwilayah Kampung Pesantren ini terdapat suatu sungai yang dulunya dipakai oleh para Santri Kyai Abdullah untuk mandi yang sekarang orang-orang menyebutnya dengan “Kedung Santri”, di sungai tersebut (menurut para saksi) jika dibawah sunyainya di gali, akan terdapat batu bata yang berukuran besar sekitar 15cm x 25cm, dan disebelah selatannya terdapat suatu Pondasi bangunan Pondok Pesantren yang dulu di bangun oleh Kyai Abdullah. Sedangkan disebelah Utara Kali Santri terdapat suatu sungai yang diberinama “Kedung Pawon”. Sungai ini dahulu digunakan oleh para Santri Kyai Abdullah untuk memasak keperluan sehari-hari.
Hingga saat ini belum diketahui apakah keturunan dari Kyai Abdullah ada yang telah kembali untuk melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan Kyai Abdullah.

Saksi adanya “penghuni lain” di wilayah Pesatren adalah Bapak Imam.
Bebeapa tahun yang lalu, Bapak Imam yang sedang berada di suatu Sungai, yang mana oleh orang-orang Pesantren di namai dengan sebutan “Kali Santri”, di tempat tersebut Bapak Imam menemukan sebuat batu bata yang berukuran besar sekitar, 15cm x 25cm, karena bentuknya yang besar Bapak Imam membawa batu bata tersebut, dan menaruhnya di Mushollah.
Dalam waktu satu minggu berturut-turut, Bapak Imam selalu bermimpi yang serem-serem, karena merasa aneh, lalu Bapak Imam mempunyai firasat, apakah mungkin bata yang dibawanya itu yang menyebabkan ia selalu bermimpi buruk.
Lalu suatu hari setelah selesai sholat subuh, bapak Imam menaruh kembali batu bata yang telah di ambilnya dari Kali Santri. Dan setelah batu bata tersebut di taruh di tempatnya, setiap malam bapak Imam tidak lagi bermimpi buruk.