Powered By Blogger

Kamis, 17 Desember 2015

SENI MURNI DAN SENI TERAPAN DARI CIREBON



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Ragam seni rupa murni di wilayah Nusantara sangat bervariasi jenisnya. Ragam seni rupa murni tersebut dipengaruhi oleh budaya yang ada di masing-masing daerah. Sehingga karya seni rupa tersebut merupakan hasil karya seni rupa daerah setempat. Seni rupa murni merupakan hasil karya seni rupa yang hanya dinikmati keindahannya saja. Sedangkan karya seni rupa terapan merupakan hasil karya seni rupa yang berfungsi sebagai benda pakai untuk kehidupan sehari-hari. Karya seni rupa murni daerah setempat merupakan karya seni rupa yang dihasilkan oleh masing-masing daerah di wilayah Nusantara. Sehingga seni rupa murni ini memiliki sifat kedaerahan atau tradisional.
Seni rupa murni masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri. Ciri khas tersebut menjadikan karya seni rupa murni daerah setempat memiliki keunikan. Keunikan tersebut dapat berupa tema, corak, teknik, bahan, dan bentuk karyanya. Masing-masing karya seni rupa murni tersebut memiliki keunikan yang dapat menjadi ciri khas suatu daerah.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil karya seni terapannya. Hal ini terbukti dengan adanya karya seni terapan di wilayah Nusantara. Seni terapan yang ada di daerah-daerah memiliki keunikan masing-masing. Keunikan tersebut menjadi ciri khas hasil karya seni rupa terapan daerah tersebut. Teknik pembuatannya pun membutuhkan keterampilan tangan yang ulet dan tekun dari si pembuat. Teknik pembuatan karya seni rupa Nusantara sangat beragam antara lain dengan teknik batik, sulam, cor, pahat, ukir, butsir, dan sebagainya.  Karya seni rupa Nusantara dapat dibedakan menjadi dua yaitu seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga dimensi. Perbedaan ini dilihat dari wujudnya, apakah hanya berupa bidang datar ataukah berupa benda yang dapat dinikmati dari beberapa sudut pandang.

1.2.      Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui macam-macam Seni Murni dan Seni Terapan yang ada di wilayah Cirebon.



BAB II
SENI MURNI DAN SENI TERAPAN DARI CIREBON

2.1.     Seni Murni Khas Cirebon
A.   Lukisan Kaca Cirebon
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pula Jawa.Pada jamannya pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan berupa Lukisan Kaca Wayang.
Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas Cirebon. Mengapa Lukisan Kaca disebut sebagai produk spesifik ? hal itu dikarenakan Lukisan Kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, kaya akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen atau ragam hias Motif Mega Mendung dan Wadasan yang kita kenal sebagai Motif Batik Cirebon. Selanjutnya perkembangan Lukisan Kaca Cirebon boleh dikatakan “Booming” ketika pada kurun waktu 1980-1990 Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon TOTO SUNU menggebrak dengan Lukisan Kaca Super Besar bahkan tidak hanya besar ukurannya tetapi Nuansa Dekoratifnya demikian hidup dan terlihat sangat menawan. Banyak sekali karya-karya TOTO SUNU yang menjadi koleksi para Kolektor Lukisan, sehingga sangatlah wajar apabila Gaya dan Teknik lukisannya menjadi kiblat para Pelukis Muda hingga saat ini.
Kalau Toto Sunu mengusung Gaya Dekoratif Modern, maka lain lagi halnya dengan RASTIKA yang mengusung Gaya Dekoratif Klasik. Kedua maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal diseantero Nusantara bahkan Mancanegara. Kedua Kutub dengan Gaya berbeda telah melahirkan puluhan Pelukis Muda yang berbakat dalam dunia seni lukis kaca bahkan dari kedua tokoh tersebut sangat menentukan dalam melahirkan regenerasi Pelukis Kaca Cirebon.
Terlepas dari semua itu, saat ini Lukisan Kaca Cirebon banyak dijadikan sebagai objek pembinaan dan pengembangan program peningkatan Usaha Produk Etnik yang diharapkan dapat mendongkrak Indeks Daya Beli. Beberapa diantaranya Lukisan Kaca Cirebon saat ini diarahkan kepada pembuatan produk massal yang lebih memungkinkan dalam peningkatan kapasitas produksi, peningkatan teknik produksi berorientasi pasar serta peningkatan diversifikasi produk untuk melahirkan Produk Cinderamata yang berbasis etnik. Seperti tak pernah kenal lelah Pemerintah Kota Cirebon melalui Disperindag dan Dekranasda Kota Cirebon terus berupaya untuk meningkatkan Perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Kendala klasik yang menjadi halangan perkembangan Lukisan Kaca Cirebon adalah perluasan pangsa pasar, karena tidaklah mudah mengalihkan masyarakat konsumen dari kebutuhan secunder ke kebutuhan primer. Kuncinya hanyalah ada pada ketersediaan produk Lukisan Kaca yang bermutu baik, berharga murah dan terjangkau , serta mudah dibawa dan mudah mencarinya. Hal ini membutuhkan keseriusan, ketelatenan dan kesabaran dalam menyikapi perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Akhirnya , setelah sekian abad Lukisan Kaca Cirebon dikenal orang, masih banyak yang harus dilakukan dalam mempromosikan produk tersebut. Salah satunya melalui Promosi Internet yang kini menjadi sasaran dalam dunia perdagangan produk baik seni maupun kerajinan, sementara para pengguna internet telah mewabah diseantero jagat ini dan bukan mustahil Promosi Internet lebih banyak mamfaatnya bagi produsen barang seni dan kerajinan termasuk Produk Lukisan Kaca Cirebon.
B.   Makna Lukisan Kaca Cirebon
Kehidupan para pendukung. Sekilas dalam pendahuluan telah diutarakan tentang matapencaharian masyarakat Cirebon. Masyarakat tersebut akan berkait langsung dengan karya lukisan kaca ini. Para pendukung dimaksudkan adalah masyarakat pembuat yang kerap pula disebut seniman ataupun masyarakat pengguna lukisan kaca tersebut. Antara pembuat dan pengguna ini tentulah terdapat hubungan-hubungan yang khusus. Tatacara dalam melakukan hubungan ini menjadi beragam ketika melalui sebuah karya lukisan kaca sebagai karya yang memiliki tandatanda dan makna-makna tertentu. Seniman yang pada dasarnya adalah pembuat tanda sebagai upaya untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat umum ataupun masyarakat pengguna akan selalu bersinggungan dengan permasalahan sebuah proses berkarya yang panjang. Kehadiran sebuah karya lukisan kaca dapat dilihat dalam beberapa proses. Pertama merupakan karya yang disebabkan oleh kebutuhan akan nilainilai estetik dan senimannya. Kebutuhan ini lazimnya muncul dari dalam dirinya tanpa dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Sebuah kehendak aktualisasi seniman untuk menunjukan peran dirinya dalam kelompok lingkungannya. Satu-satunya pengaruh pada karya adalah tingkat penyesuaian antara gagasan yang ingin disampaikan dengan kemampuan ketrampilan diri. Tidak semua gagasan dapat dituangkan kedalam karya bila ketrampilan sebagai pendukungnya belum setara dengan idenya. Bila demikian yang terjadi maka biasanya seniman mencoba atau mengupayakan terlebih dahulu untuk meningkatkan kemampannya. Proses seperti ini akan terus berlangsung sepanjang seniman menginginkan sebuah peningkatan. Kemampuan tersebut dapat meliputi pengetahuan teknik-teknik menggambar dan pengetahuan tentang teknologi media. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pembentukan seni visual adalah ketrampilan dan media visualnya. Kedua, munculnya keberadaan karya lukisan kaca ini dapat disebabkan oleh sebuah interaksi seniman dengan pengguna. Pengguna seba7,ai manusia yang memerlukan pemenuhan akan nilai estetik mencoba menutupinya dengan berbagai hal, salah satu diantaranya adalah dengan memesan atau membeli karya lukisan kaca tersebut. Pada dasarnya lukisan kaca yang bersifat dua dimensi ini sebagai pemenuhan keindahan akan interior rumahnya dan sekaligus pula sebagai pemenuhan atas kepuasan jiwa. Sebagian hotel-hotel dan beberapa perkantoran yang berada di Cirebon ini telah memanfaatkan pula lukisan kaca sebagai pemenuhan kebutuhan interiornya. Mengingat wujud lukisan kaca ini berupa plat kaca maka kerap digunakan sebagai pelengkap estetika dinding-dinding yang berada di dalam hotel, misalnya dinding kamar tidur, dinding lobby, dinding latar reseptionis, dinding restoran, dan dinding-dinding lainnya yang dianggap memerlukan karya-karya tersebut. Untuk interior rumah tinggal, umumnya para pengguna akan dipengaruhi oleh kesukaan pribadi yang tercermin dalam tema lukisan kaca. Dahulu seorang yang dianggap "berada" akan memiliki sepasang lukisan kaca yang ditempatkan di samping kiri-kanan dari pintu dalam di ruang tamunya. Namun konsep peletakan lukisan kaca tersebut menjadi berubah manakala struktur arsitektur mulai berubah.
C.   Seniman Lukis Kaca Cirebon
Lahir di Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1942. Anak pasangan Tarsa dan Rubiyem ini belajar melukis sejak usia 10 tahun. Kepandaian sang kakek yang semasa hidupnya terkenal sebagai seorang pengukir keris rupanya menurun kepadanya. Ketika duduk di bangku sekolah, secara diam-diam Rastika suka menggambari Sabak (batu tulis) dengan motif wayang Cirebon.
Secara otodidak, Rastika mulai belajar mengenai motif batik Cirebon yang menyertai seorang tokoh wayang. Tahun 1960-an, ketika berusia belasan tahun, Rastika mulai melukis diatas kertas. Tetapi, ketika ia melihat para pelukis kaca senior seperti Maruna, Saji dan Sudarga melukis diatas kaca, secara diam-diam Rastika mencobanya di rumah, lalu ia tunjukan kepada Sudarga. “Dia bilang lukisan saya bagus”,”ujarnya. Dari situlah Rastika mulai menekuni melukis diatas kaca dan pembeli lukisan pertamanya bernama Sukirno, tetangganya sendiri.
Narasi lukisan Rastika umumnya merupakan suatu penggambaran antara baik dan buruk, hukuman dan kejahatan, angkara dan samadi, dalam pola dan motif yang berasal dari kisah-kisah legenda dan pewayangan, dengan motif campuran antara Jawa-Hindu, Islam dan Cina yang telah bertranformasi.
Tahun 1977, Rastika ikut serta berpameran di Pasar Seni ITB, ia di ajak oleh pelukis Hariadi Suadi yang juga dosen seni grafis Fakultas Seni Rupa ITB. Waktu itu Rastika berpameran bersama Sudarga, masing-masing memamerkan lima lukisan. Lukisan Semar dengan Dua Kalimat Syahadat karya Rastika pun terpampang dSejak itulah namanya mencuat. Banyak orang yang mengemari karyanya.
Seingat Rastika sampai sekarang, ia sudah berpameran sebanyak 15 kali, baik bersama-sama maupun tunggal. Tetapi, tak ada satu pameran yang ia selenggarakan sendiri, “Semuanya di prakarsai orang”, katanya. Pameran tunggal dan bersamanya antara lain di Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, dan berbagai hotel di Jakarta. Lukisan kacanya juga pernah ditampilkan dalam Pekan Raya Jakarta 1978, di Mitra Budaya milik perkumpulan pencinta kebudayaan di Jakarta, bahkan ketika Semarang mengadakan pameran kaligrafi dalam MTQ Xl Rastika juga turut serta.
Pernah mempersembahkan lukisan kaligrafi Semar dengan Dua Kalimat Syahadat yang dibuatnya kembali kepada Presiden Soeharto dalam upacara pembukaan Museum Indonesia di TMII. Lukisan-lukisannya banyak dimiliki oleh para kolektor antara lain : Karna Tanding, Begawan Mintaraga, Anoman Obong, Aji Candrabirawa, Bima Suci dan Kumbakarna Gugur. Salah satu lukisannya diberi nama Citra Indonesia terpampang dimuseum Indonesia TMII. karya-karya Rastika, kini juga bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta
Selain melukis diatas kaca, Rastika juga mahir dalam sungging dan tatah wayang kulit serta wayang golek cepak. Ia pun sangat pandai menabuh gamelan dan ikut bergabung dalam satu kelompok pertunjukan wayang kulit di desanya. Membuat sebuah galeri kecil didepan rumahnya, di Gegesik Kulon, Gegesik, Cirebon, Jawa Barat yang melahirkan karya-karya yang unik dalam khasanah seni lukis Indonesia.


2.2.     Seni Terapan Cirebon
A.   Topeng Cirebon
Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu jarang . Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian tari topeng.
Menurut Hasan Nawi, salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.
Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.
Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.
Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.
Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

Di zaman mana?
Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).
Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.
Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.
Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.
Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.
Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.
Mengandung semua sifat ciptaan
Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.
Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.
Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.
Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”, dan “Patih-Klana”. Inilah sebabnya kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua).
Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.
Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.
Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.
Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.
Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

B.   Cara Pembuatan Topeng Cirebon
Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:
1.    Kayu gelondongan dibentuk segitiga dan dihaluskan permukaannya
2.    Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian-bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya
3.    Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan pahat
4.    Setelah cukup rapi, seluruh permukaan wajah diolesi cat dasar, kemudian diamplas.
5.    Setelah cat kering, mulailah wajah topeng itu didandani dengan menggunakan cat warna. Tentu saja disesuaikan dengan jenis topengnya.

C.   Jenis-Jenis Topeng Cirebon

Topeng Cirebon yang paling pokok ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda :
  • Panji, wajahnya yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir
  • Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
  • Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja
  • Patih (Tumenggung), topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
  • Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah




BAB III
PENUTUP

Lukisan kaca sebagai karya seni visual memiliki muatan-muatan tanda yang dibuat oleh para senimannya yang berawal dan kebutuhan sebagai syiar agama dan terdapat kecenderungan bergeser menjadi ekspresi individual sebagaimana lazimnya sebuah lukisan. Baik tema keagamaan, wa yang, ataupun tema modern dapat berjalan masing-masing sesuai dengan kebutuhan lingkungan dari masyarakat penggunanya. Oleh karena itu tandatanda yang terdapat dalam lukisan kaca dapat berkembang selaras dengan berkembangnya fungsi dan peran dari lukisan kacanya. Fungsi ini sangat ditentukan oleh interaksi para pendukungnya yaitu antara seniman dan para penggunanya.
Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu jaran. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian tari topeng.


MAKALAH
SENI MURNI DAN SENI TERAPAN DARI CIREBON













DISUSUN OLEH :
JURAGAN.NET
KELAS : 9 G


SMP NEGERI 9 KOTA CIREBON


DAFTAR ISI


Halaman
BAB I         PENDAHULUAN...........................................................................       1
1.1         Latar Belakang..................................................................       1
1.2         Tujuan.............................................................................       1

BAB II        SENI MURNI DAN SENI TERAPAN DARI CIREBON..............................       2
2.1     Seni Murni Khas Cirebon......................................................       2
A.  Lukisan Kaca Cirebon.....................................................       2
B.  Makna Lukisan Kaca Cirebon...........................................       3
C.  Seniman Lukis Kaca Cirebon............................................       4
2.2     Seni Terapan Khas Cirebon..................................................       6
A.  Topeng Cirebon............................................................       6
B.  Cara Pembuatan Topeng Cirebon.....................................     10
C.  Jenis-Jenis Topeng Cirebon.............................................     10

BAB III       PENUTUP...................................................................................     12

Tidak ada komentar: