BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Ragam seni rupa murni di wilayah Nusantara sangat
bervariasi jenisnya. Ragam seni rupa murni tersebut dipengaruhi oleh budaya
yang ada di masing-masing daerah. Sehingga karya seni rupa tersebut merupakan
hasil karya seni rupa daerah setempat. Seni rupa murni merupakan hasil karya
seni rupa yang hanya dinikmati keindahannya saja. Sedangkan karya seni rupa
terapan merupakan hasil karya seni rupa yang berfungsi sebagai benda pakai
untuk kehidupan sehari-hari. Karya seni rupa murni daerah setempat merupakan
karya seni rupa yang dihasilkan oleh masing-masing daerah di wilayah Nusantara.
Sehingga seni rupa murni ini memiliki sifat kedaerahan atau tradisional.
Seni rupa murni masing-masing daerah memiliki ciri khas
tersendiri. Ciri khas tersebut menjadikan karya seni rupa murni daerah setempat
memiliki keunikan. Keunikan tersebut dapat berupa tema, corak, teknik, bahan,
dan bentuk karyanya. Masing-masing karya seni rupa murni tersebut memiliki
keunikan yang dapat menjadi ciri khas suatu daerah.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil karya
seni terapannya. Hal ini terbukti dengan adanya karya seni terapan di wilayah
Nusantara. Seni terapan yang ada di daerah-daerah memiliki keunikan
masing-masing. Keunikan tersebut menjadi ciri khas hasil karya seni rupa
terapan daerah tersebut. Teknik pembuatannya pun membutuhkan keterampilan
tangan yang ulet dan tekun dari si pembuat. Teknik pembuatan karya seni rupa
Nusantara sangat beragam antara lain dengan teknik batik, sulam, cor, pahat,
ukir, butsir, dan sebagainya. Karya seni rupa Nusantara dapat dibedakan
menjadi dua yaitu seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga dimensi. Perbedaan
ini dilihat dari wujudnya, apakah hanya berupa bidang datar ataukah berupa
benda yang dapat dinikmati dari beberapa sudut pandang.
1.2.
Maksud dan Tujuan
Adapun
maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui macam-macam
Seni Murni dan Seni Terapan yang ada di wilayah Cirebon.
BAB II
SENI MURNI DAN SENI
TERAPAN DARI CIREBON
2.1. Seni Murni Khas Cirebon
A.
Lukisan Kaca Cirebon
Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah
dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya Agama Islam di Pula Jawa.Pada
jamannya pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon, Lukisan Kaca sangat terkenal
sebagai media dakwah Islam yang berupa Lukisan Kaca Kaligrafi dan berupa
Lukisan Kaca Wayang.
Sejalan dengan perkembangan waktu, maka perkembangan
Lukisan Kaca masih terasa eksistensinya sebagai Cinderamata Spesifik Khas
Cirebon. Mengapa Lukisan Kaca disebut sebagai produk spesifik ? hal itu
dikarenakan Lukisan Kaca Cirebon dilukis dengan teknik melukis terbalik, kaya
akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen
atau ragam hias Motif Mega Mendung dan Wadasan yang kita kenal sebagai Motif
Batik Cirebon. Selanjutnya perkembangan Lukisan Kaca Cirebon boleh dikatakan
“Booming” ketika pada kurun waktu 1980-1990 Sang Maestro Lukisan Kaca Cirebon
TOTO SUNU menggebrak dengan Lukisan Kaca Super Besar bahkan tidak hanya besar
ukurannya tetapi Nuansa Dekoratifnya demikian hidup dan terlihat sangat
menawan. Banyak sekali karya-karya TOTO SUNU yang menjadi koleksi para Kolektor
Lukisan, sehingga sangatlah wajar apabila Gaya dan Teknik lukisannya menjadi
kiblat para Pelukis Muda hingga saat ini.
Kalau Toto Sunu mengusung Gaya Dekoratif Modern, maka
lain lagi halnya dengan RASTIKA yang mengusung Gaya Dekoratif Klasik. Kedua
maestro Lukisan Kaca Cirebon tersebut memiliki kekuatan yang sama dalam
penuangan kreatifitasnya, justeru dengan perbedaan pada Gaya yang dianutnya
membuat Lukisan Kaca Cirebon terkenal diseantero Nusantara bahkan Mancanegara.
Kedua Kutub dengan Gaya berbeda telah melahirkan puluhan Pelukis Muda yang
berbakat dalam dunia seni lukis kaca bahkan dari kedua tokoh tersebut sangat
menentukan dalam melahirkan regenerasi Pelukis Kaca Cirebon.
Terlepas dari semua itu, saat ini Lukisan Kaca Cirebon
banyak dijadikan sebagai objek pembinaan dan pengembangan program peningkatan
Usaha Produk Etnik yang diharapkan dapat mendongkrak Indeks Daya Beli. Beberapa
diantaranya Lukisan Kaca Cirebon saat ini diarahkan kepada pembuatan produk
massal yang lebih memungkinkan dalam peningkatan kapasitas produksi, peningkatan
teknik produksi berorientasi pasar serta peningkatan diversifikasi produk untuk
melahirkan Produk Cinderamata yang berbasis etnik. Seperti tak pernah kenal lelah Pemerintah Kota Cirebon
melalui Disperindag dan Dekranasda Kota Cirebon terus berupaya untuk meningkatkan
Perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Kendala klasik yang menjadi halangan perkembangan
Lukisan Kaca Cirebon adalah perluasan pangsa pasar, karena tidaklah mudah
mengalihkan masyarakat konsumen dari kebutuhan secunder ke kebutuhan primer.
Kuncinya hanyalah ada pada ketersediaan produk Lukisan Kaca yang bermutu baik,
berharga murah dan terjangkau , serta mudah dibawa dan mudah mencarinya. Hal
ini membutuhkan keseriusan, ketelatenan dan kesabaran dalam menyikapi
perkembangan Lukisan Kaca Cirebon.
Akhirnya , setelah sekian abad Lukisan Kaca Cirebon
dikenal orang, masih banyak yang harus dilakukan dalam mempromosikan produk
tersebut. Salah satunya melalui Promosi Internet yang kini menjadi sasaran
dalam dunia perdagangan produk baik seni maupun kerajinan, sementara para
pengguna internet telah mewabah diseantero jagat ini dan bukan mustahil Promosi
Internet lebih banyak mamfaatnya bagi produsen barang seni dan kerajinan
termasuk Produk Lukisan Kaca Cirebon.
B.
Makna Lukisan Kaca Cirebon
Kehidupan
para pendukung. Sekilas dalam pendahuluan telah diutarakan tentang
matapencaharian masyarakat Cirebon. Masyarakat tersebut akan berkait langsung
dengan karya lukisan kaca ini. Para pendukung dimaksudkan adalah masyarakat
pembuat yang kerap pula disebut seniman ataupun masyarakat pengguna lukisan
kaca tersebut. Antara pembuat dan pengguna ini tentulah terdapat
hubungan-hubungan yang khusus. Tatacara dalam melakukan hubungan ini menjadi
beragam ketika melalui sebuah karya lukisan kaca sebagai karya yang memiliki tandatanda
dan makna-makna tertentu. Seniman yang pada dasarnya adalah pembuat tanda
sebagai upaya untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat umum
ataupun masyarakat pengguna akan selalu bersinggungan dengan permasalahan
sebuah proses berkarya yang panjang. Kehadiran sebuah karya lukisan kaca dapat
dilihat dalam beberapa proses. Pertama merupakan karya yang disebabkan
oleh kebutuhan akan nilainilai estetik dan senimannya. Kebutuhan ini lazimnya
muncul dari dalam dirinya tanpa dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Sebuah
kehendak aktualisasi seniman untuk menunjukan peran dirinya dalam kelompok
lingkungannya. Satu-satunya pengaruh pada karya adalah tingkat penyesuaian
antara gagasan yang ingin disampaikan dengan kemampuan ketrampilan diri. Tidak
semua gagasan dapat dituangkan kedalam karya bila ketrampilan sebagai
pendukungnya belum setara dengan idenya. Bila demikian yang terjadi maka
biasanya seniman mencoba atau mengupayakan terlebih dahulu untuk meningkatkan
kemampannya. Proses seperti ini akan terus berlangsung sepanjang seniman
menginginkan sebuah peningkatan. Kemampuan tersebut dapat meliputi pengetahuan teknik-teknik menggambar dan
pengetahuan tentang teknologi media. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam
pembentukan seni visual adalah ketrampilan dan media visualnya. Kedua, munculnya
keberadaan karya lukisan kaca ini dapat disebabkan oleh sebuah interaksi
seniman dengan pengguna. Pengguna seba7,ai manusia yang memerlukan pemenuhan
akan nilai estetik mencoba menutupinya dengan berbagai hal, salah satu
diantaranya adalah dengan memesan atau membeli karya lukisan kaca tersebut.
Pada dasarnya lukisan kaca yang bersifat dua dimensi ini sebagai pemenuhan
keindahan akan interior rumahnya dan sekaligus pula sebagai pemenuhan atas
kepuasan jiwa. Sebagian hotel-hotel dan beberapa perkantoran yang berada di
Cirebon ini telah memanfaatkan pula lukisan kaca sebagai pemenuhan kebutuhan
interiornya. Mengingat wujud lukisan kaca ini berupa plat kaca maka kerap
digunakan sebagai pelengkap estetika dinding-dinding yang berada di dalam
hotel, misalnya dinding kamar tidur, dinding lobby, dinding latar reseptionis,
dinding restoran, dan dinding-dinding lainnya yang dianggap memerlukan
karya-karya tersebut. Untuk interior rumah tinggal, umumnya para pengguna akan
dipengaruhi oleh kesukaan pribadi yang tercermin dalam tema lukisan kaca.
Dahulu seorang yang dianggap "berada" akan memiliki sepasang lukisan
kaca yang ditempatkan di samping kiri-kanan dari pintu dalam di ruang tamunya.
Namun konsep peletakan lukisan kaca tersebut menjadi berubah manakala struktur
arsitektur mulai berubah.
C. Seniman Lukis Kaca
Cirebon
Lahir di Gegesik Kulon, Kecamatan
Gegesik, Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1942. Anak pasangan Tarsa dan Rubiyem
ini belajar melukis sejak usia 10 tahun. Kepandaian sang kakek yang semasa
hidupnya terkenal sebagai seorang pengukir keris rupanya menurun kepadanya.
Ketika duduk di bangku sekolah, secara diam-diam Rastika suka menggambari Sabak
(batu tulis) dengan motif wayang Cirebon.
Secara otodidak, Rastika mulai
belajar mengenai motif batik Cirebon yang menyertai seorang tokoh wayang. Tahun
1960-an, ketika berusia belasan tahun, Rastika mulai melukis diatas kertas.
Tetapi, ketika ia melihat para pelukis kaca senior seperti Maruna, Saji dan Sudarga
melukis diatas kaca, secara diam-diam Rastika mencobanya di rumah, lalu ia
tunjukan kepada Sudarga. “Dia bilang lukisan saya bagus”,”ujarnya. Dari situlah
Rastika mulai menekuni melukis diatas kaca dan pembeli lukisan pertamanya
bernama Sukirno, tetangganya sendiri.
Narasi lukisan Rastika umumnya
merupakan suatu penggambaran antara baik dan buruk, hukuman dan kejahatan,
angkara dan samadi, dalam pola dan motif yang berasal dari kisah-kisah legenda
dan pewayangan, dengan motif campuran antara Jawa-Hindu, Islam dan Cina yang
telah bertranformasi.
Tahun 1977, Rastika ikut serta
berpameran di Pasar Seni ITB, ia di ajak oleh pelukis Hariadi Suadi yang juga
dosen seni grafis Fakultas Seni Rupa ITB. Waktu itu Rastika berpameran bersama
Sudarga, masing-masing memamerkan lima lukisan. Lukisan Semar dengan Dua
Kalimat Syahadat karya Rastika pun terpampang dSejak itulah namanya mencuat.
Banyak orang yang mengemari karyanya.
Seingat Rastika sampai sekarang, ia
sudah berpameran sebanyak 15 kali, baik bersama-sama maupun tunggal. Tetapi,
tak ada satu pameran yang ia selenggarakan sendiri, “Semuanya di prakarsai
orang”, katanya. Pameran tunggal dan bersamanya antara lain di Taman Ismail
Marzuki, Bentara Budaya, dan berbagai hotel di Jakarta. Lukisan kacanya juga pernah
ditampilkan dalam Pekan Raya Jakarta 1978, di Mitra Budaya milik perkumpulan
pencinta kebudayaan di Jakarta, bahkan ketika Semarang mengadakan pameran
kaligrafi dalam MTQ Xl Rastika juga turut serta.
Pernah mempersembahkan lukisan
kaligrafi Semar dengan Dua Kalimat Syahadat yang dibuatnya kembali kepada
Presiden Soeharto dalam upacara pembukaan Museum Indonesia di TMII.
Lukisan-lukisannya banyak dimiliki oleh para kolektor antara lain : Karna
Tanding, Begawan Mintaraga, Anoman Obong, Aji Candrabirawa, Bima Suci dan
Kumbakarna Gugur. Salah satu lukisannya diberi nama Citra Indonesia terpampang
dimuseum Indonesia TMII. karya-karya Rastika, kini juga bisa dilihat di Museum
Wayang, Jakarta
Selain melukis diatas kaca, Rastika
juga mahir dalam sungging dan tatah wayang kulit serta wayang golek cepak. Ia
pun sangat pandai menabuh gamelan dan ikut bergabung dalam satu kelompok
pertunjukan wayang kulit di desanya. Membuat sebuah galeri kecil didepan
rumahnya, di Gegesik Kulon, Gegesik, Cirebon, Jawa Barat yang melahirkan
karya-karya yang unik dalam khasanah seni lukis Indonesia.
2.2. Seni
Terapan Cirebon
A.
Topeng Cirebon
Topeng Cirebon adalah topeng yang
terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan
ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar
dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk
membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa
digunakan adalah kayu jarang . Topeng ini biasanya digunakan untuk
kesenian tari topeng.
Menurut Hasan Nawi, salah
seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia
seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah
mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa
yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya
dengan topeng anak-anak.
Topeng Cirebon yang semula berpusat
di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan
seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat
mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan
keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon,
seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.
Untuk merekonstruksi kembali Topeng
Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng
Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan
strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”.
Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.
Dari mana filsafat tari Topeng
Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang
sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut.
Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya
Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis
terhadapnya.
Siapakah Empu pencipta tarian ini?
Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia
lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di
Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat
pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.
Di zaman
mana?
Kalau pencipta tidak dikenal,
sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian
tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam
Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan
raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan
topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit.
Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton
perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan
raja, ibu mertua raja, ibunda raja).
Dengan demikian dapat diduga bahwa
Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai
1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada
sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di
Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya
dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang
dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad
dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja
Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat
hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat
menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa
telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.
Dari Demak tarian ini terbawa
bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas
pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke
arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya
berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten
dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari
penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang
yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di
pedalaman.
Topeng Majapahit ini, dengan
demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman
topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap
hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan
Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona
seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang
hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas
transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya
masih memelihara kesenian ini.
Topeng Cirebon adalah simbol
penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan
Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam
hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan
Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena
ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.
Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia
adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan
semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan
keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi
saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di
Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf
alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala
sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi
merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.
Mengandung
semua sifat ciptaan
Sang Hyang Tunggal Indonesia purba
ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu
saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi
kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur
jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal
manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal
manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati
karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong,
itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak.
Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.
Topeng Cirebon menyimbolkan
bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam
pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap,
lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari
Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece
rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks
pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta.
Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.
Inilah sebabnya kedok Panji tak
dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan.
Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih
tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan
gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji
sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana
menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari
ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon,
yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.
Empat tarian sisanya adalah perwujudan
emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam
dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”, dan
“Patih-Klana”. Inilah sebabnya kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah,
sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua).
Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus
keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian.
Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan
Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat
berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu
adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling
bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji
mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih
fasih menjelaskannya.
Topeng Panji menyimbolkan peristiwa
besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal
mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial
umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman
dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang
Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri,
yang dikenal dengan paham dewa-Raja.
Topeng Cirebon adalah gambaran
sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang
Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi
keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu
sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi
diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.
Topeng Cirebon adalah tarian ritual
yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah
sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam
ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan
topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini
masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.
Tarian juga harus didahului oleh
persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang
Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya
dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang
perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur
merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar
sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang
perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi
lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia
Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.
B. Cara Pembuatan Topeng Cirebon
Langkah-langkah
pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:
1. Kayu gelondongan dibentuk segitiga dan
dihaluskan permukaannya
2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama
untuk peletakan bagian-bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Bagian hidung harus lebih
timbul dari bagian lainnya
4. Setelah cukup rapi, seluruh permukaan wajah
diolesi cat dasar, kemudian diamplas.
5. Setelah cat kering, mulailah wajah topeng itu
didandani dengan menggunakan cat warna. Tentu saja disesuaikan dengan jenis
topengnya.
C. Jenis-Jenis Topeng Cirebon
Topeng
Cirebon yang paling pokok ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda :
- Panji, wajahnya yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir
- Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
- Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja
- Patih (Tumenggung), topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
- Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
BAB III
PENUTUP
Lukisan kaca sebagai karya seni visual
memiliki muatan-muatan tanda yang dibuat oleh para senimannya yang berawal dan
kebutuhan sebagai syiar agama dan terdapat kecenderungan bergeser menjadi
ekspresi individual sebagaimana lazimnya sebuah lukisan. Baik tema keagamaan,
wa yang, ataupun tema modern dapat berjalan masing-masing sesuai dengan
kebutuhan lingkungan dari masyarakat penggunanya. Oleh karena itu tandatanda
yang terdapat dalam lukisan kaca dapat berkembang selaras dengan berkembangnya
fungsi dan peran dari lukisan kacanya. Fungsi ini sangat ditentukan oleh
interaksi para pendukungnya yaitu antara seniman dan para penggunanya.
Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat
dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan,
ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses
pembuatannya. Seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk
membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa
digunakan adalah kayu jaran. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian
tari topeng.
MAKALAH
SENI MURNI DAN SENI
TERAPAN DARI CIREBON
DISUSUN OLEH :
JURAGAN.NET
KELAS : 9 G
SMP NEGERI 9 KOTA CIREBON
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1
Latar Belakang.................................................................. 1
1.2
Tujuan............................................................................. 1
BAB II SENI MURNI DAN SENI TERAPAN DARI CIREBON.............................. 2
2.1 Seni Murni Khas Cirebon...................................................... 2
A. Lukisan Kaca Cirebon..................................................... 2
B. Makna Lukisan Kaca Cirebon........................................... 3
C. Seniman Lukis Kaca Cirebon............................................ 4
2.2 Seni Terapan Khas Cirebon.................................................. 6
A. Topeng Cirebon............................................................ 6
B. Cara Pembuatan Topeng Cirebon..................................... 10
C. Jenis-Jenis Topeng Cirebon............................................. 10
BAB III PENUTUP................................................................................... 12


Tidak ada komentar:
Posting Komentar