PENGGUNAAN
MEDIA KORAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA KELAS V
MADRASAH
IBTIDAIYAH SALAFIYAH
KOTA
CIREBON
Studi Kasus di Kelas V Madrasah
Ibtidaiyah Salafiyah Kota Cirebon
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
Diajukan untuk persyaratan Kenaikan Pangkat
Guru
Di lingkungan Kementerian Agama
Oleh
Ating
Yuliatiningsih, S.Pd.I
NIP. 19690318
200604 2 001
MADRASAH
IBTIDAIYAH SALAFIYAH
KOTA CIREBON
JANUARI
2020
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kondisi pendidikan saat ini sedang mendapat sorotan dari berbagai pihak
yang mengindikasikan bahwa dari segi kwalitas masih tergolong rendah. Dengan
demikian maka munculah gagasan-gagasan yang mengarah terhadap usaha peningkatan
mutu pendidikan, sehingga keluarlah seperangkat kebijakan pemerintah yang
berpihak terhadap dunia pendidikan.
Lembaga pendidikan dalam hal ini memiliki peranan yang paling dominan dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu guru sebagai perangkat
pelaksana terdepan di institusi pendidikan dituntut untuk dapat melaksanakan
tugasnya secara profesional dalam mengatasi permasalahan pengelolaan
pembelajaran di kelasnya.
Guru yang profesional harus memiliki sejumlah kompetensi. Menurut Satori,
dkk, (2008:1.18) kompetensi yang dimaksud adalah sebagai berikut, yaitu : “kompetensi
professional” artinya memiliki pengetahuan yang kuat, “kompetensi personal”
artinya memiliki sikap kepribadian yang mantap, “kompetensi social” artinya
menunjukkan kemampuan berkomunikasi sosial baik dengan murid-muridnya maupun
dengan sesama rekan guru dan kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas,
serta “kemampuan untuk memberikan pelayanan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran seringkali guru dihadapkan dengan berbagai
permasalahan. Masalah yang muncul dapat disebabkan oleh beberapa fakor. Diantaranya
adalah situasi kelas yang kurang kondusif seperti yang dirasakan oleh kelas V Madrasah
Ibtidaiyah Salafiyah Kota Cirebon. Konsentrasi siswa terganggu oleh suara gaduh
dari kelas disebelahnya karena dalam satu ruang kelas digunakan untuk dua
rombel. Kurangnya perhatian orang tua terhadap belajar siswa juga berpengaruh
terhadap motivasi belajar siswa di sekolah. Sehingga siswa kurang
sungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran. Masalah yang paling utama adalah
masalah pembelajaran, dimana perolehan hasil belajar siswa di akhir
pembelajaran tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan di
awal pembelajaran. Masalah pembelajaran yang sedang dihadapi oleh penulis
muncul ketika siswa disuruh mencari informasi secara cepat dan tepat dari sebuah
teks dengan membaca memindai. Pada pelaksanaannya ternyata masih banyak siswa
yang belum mampu melakukannya. Kebanyakan siswa melakukannya dengan membaca
seluruh teks dari kata per kata sampai selesai. Hal itu terbukti ketika guru
akan mengajukan pertanyaan, siswa berkata,”Sebentar pak saya belum selesai
membacanya.” Selain itu terdapat siswa ketika membaca memindai mulutnya
komat-kamit, juga ada siswa yang membaca dengan menggunakan penunjuk jari
tangan, serta pandangan mata selalu bergerak ke kiri- ke kanan mengikuti setiap
baris bacaan. Dan yang mengherankan masih ada saja siswa yang membaca dengan
bersuara (bergumam). Ketika ditanya mengapa kamu membaca memindai bersuara
(bergumam) dia menjawab “Tidak terasa Bu”. Bahkan ada beberapa siswa yang
seakan-akan tidak tertarik terhadap materi berupa teks/bacaan yang terdapat
pada buku pelajaran yang selalu digunakan setiap waktu sehingga mereka masih
kelihatan ngobrol dengan temannya. Dengan keadaan seperti itu maka tujuan
membaca memindai untuk menemukan informasi secara cepat malah menjadi lambat.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka data awal permasalahan
yang muncul dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Kurangnya motivasi belajar siswa.
2.
Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca memindai.
3.
Konsentrasi siswa terganggu oleh kelas sebelah karena satu ruang digunakan
oleh dua kelas.
4.
Kurangnya perhatian orang tua terhadap belajar siswa.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, penulis mencoba dan berusaha
untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah
Kota Cirebon pada materi membaca memindai di atas dengan melaksanakan perbaikan
pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas (PTK).
Identifikasi
Masalah Pembelajaran
Dari data awal
penulis bersama supervisor 2 mengidentifikasikan masalah tersebut dengan
dikelompokan menjadi dua bagian yaitu:
a.
Masalah 1 dan 2 adalah masalah yang dapat diperbaharui guru.
b.
Masalah 3 dan 4 adalah masalah yang tidak dapat diperbaharui guru.
Analisis Masalah
Hasil analisis penulis
bersama supervisor 2 dari dua masalah yang dapat diperbaharui guru, maka
masalah yang paling penting untuk segera dipecakan adalah masalah “rendahnya
kemampuan siswa dalam membaca memindai.”
Alternatif
Pemecahan Masalah
Alternatif
pemecahan masalah yang akan dilakukan berdasarkan kajian penulis bersama
supervisor 2 terhadap hasil analisis masalah, maka faktor penyebab yang paling
utama adalah penyajian materi tidak disertai media pembelajaran. Dengan
demikian alternatif pemecahan masalah rendahnya kemampuan siswa kelas V dalam melakukan
membaca memindai yaitu dengan “Penggunaan media koran dalam pelaksanaan
pembelajaran”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil analisis masalah yang telah dilakukan penulis bersama
suvervisor 2 masalah penelitian yang akan dipecahkan melalui PTK materi
tentang membaca memindai pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas 5
adalah:
“Bagaimanakah
cara meningkatkan kemampuan membaca memindai siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah
Salafiyah Kota Cirebon melalui penggunaan media koran?”.
C.
Tujuan Perbaikan
Tujuan penulis
mengadakan perbaikan pembelajaran adalah Untuk mengetahui cara meningkatkan
kemampuan membaca memindai siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Kota
Cirebon melalui penggunaan media koran.
D.
Manfaat Penelitian
Manfaat
dilaksanakannya penelitian tindakan kelas sangat bermanfaat bagi guru, siswa,
dan bagi sekolah.
1.
Manfaat Bagi Guru
a.
Kwalitas pembelajaran yang dikelola lebih meningkat
b.
Dapat berkembang secara professional
c.
Lebih percaya diri karena dapat menemukan kekuatan dan dapat mengatasi
kelemahannya.
d.
Mempunyai kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan sendiri.
e.
Guru mempunyai kemampuan menilai juga memperbaiki pembelajaran
2.
Manfaat Bagi Siswa :
a.
Hasil belajar siswa akan meningkat dengan adanya perbaikan pada proses
pembelajaran
b.
Menumbuhkan motivasi belajar siswa
3.
Manfaat Bagi Sekolah
a.
Dapat meningkatkan kwalitas pendidikan bagi para siswanya.
b.
Sekolah dapat berkembang pesat.
c.
Menumbuhkan iklim kerja sama yang kondusif
d.
Citra sekolah dapat terangkat dengan meningkatnya kwalitas pendidikan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Membaca Memindai
1.
Pengertian Membaca Memindai
Membaca memindai adalah salah satu keterampilan berbahasa dalam ruang
lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia pada aspek membaca. Membaca memindai
terdapat pada standar isi kurikulum 2006 pada mata pelajaran bahasa Indonesia
satuan pendidkan dasar ditingkat kelas V pada semester II (Permendiknas RI
Nomor 22 Tahun 20067 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah). Membaca memindai menurut
Utorodewo htt://johnherf.wordpress.com/2007/02/06/tinjauan-buku-teks- pelajaran-bahasa-indonesia/
membaca memindai atau scaning adalah teknik membaca untuk memperoleh informasi
secara cepat dan langsung pada sasarannya. Dalam kehidupan sehari-hari membaca
dengan memindai ini dilakukan untuk mencari: nomor telepon, kata dalam kamus,
entri pada indeks, angka statistik atau tabel, jadwal siaran televisi, jadwal
perjalanan. Akan tetapi, ada pula cara membaca memindai prosa, yakni mencari
informasi topik tertentu dalam suatu bacaan. Artinya, kita mencari informasi
yang kita butuhkan dengan mencari terlebih dahulu bagian dari bacaan yang
memuat informasi tersebut.
2.
Langkah-langkah Membaca
Memindai
Adapun
langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a.
Cari kata kunci yang dibutuhkan.
b.
Kenalilah organisasi dan struktur bacaan untuk memperkirakan letak kata
atau istilah yang dicari. Lihat gambar, grafik, tabel, jika disediakan. (Jika
memindai buku, cobalah cari kata atau istilah itu melalui daftar isi dan
indeks.
c.
Gerakkanlah mata secara sistematik dan cepat. Ada dua cara: (1) seperti
anak panah langsung ketengah bacaan dan meluncur ke bawah atau (2) dengan cara
pola S atau zig-zag.
d.
Setelah menemukan letak kata atau istilah yang dicari, lambatkan kecepatan
membaca untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
3.
Hal-hal yang Dapat
Memperlambat dalam Membaca Memindai
a.
Pandangan mata yang mesti mengikuti kata perkata,dari kiri ke kanan.
b.
Membaca dengan mengeluarkan suara.
c.
Membaca dengan menggunakan mulut yang komat-kamit.
d.
Membaca dengan menggunakan penunjuk, baik dengan jari telunjuk, pensil dan
sebagainya.
e.
Tergoda membaca keseluruhan secara pelan.
B.
Koran Sebagai Media Pembelajaran
1.
Hakikat Koran
Koran (dari bahasa Belanda “Krant”, dari bahasa Perancis “courant”) atau surat
kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya
dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas koran, yang berisiberita-berita terkini dalam berbagai
topik. Topiknya bisa berupa even politik, kriminalitas, olahraga, tajuk rencana, cuaca. Surat
kabar juga biasa berisikomik, TTS dan hiburan lainnya.
Koran adalah lembaran(-lembaran) kertas bertuliskan kabar (berita) dsb,
terbagi dl kolom-kolom (8—9 kolom), terbit setiap hari atau secara periodik.
2.
Fungsi Media Koran
Dalam membaca memindai untuk mendapatkan atau menemukan informasi tidak
hanya diperoleh dari buku pelajaran saja tetapi dapat diperoleh dari berbagai
sumber yang ada diantaranya adalah koran atau surat kabar.
Koran atau surat kabar merupakan salah satu media yang menyediakan berbagai
bentuk informasi yang dibutuhkan oleh banyak orang. Dengan demikian koran
merupakan media yang tepat untuk digunakan sebagai sumber belajar bagi siswa
sekolah di kelas V dalam menemukan informasi secara cepat pada materi membaca
memindai. Hal ini sesuai dengan pendapat Hernawan, dkk (2008:11.18) bahwa media
pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru ke
siswa atau sebaliknya.
Koran merupakan salah satu jenis media yang hanya bisa ditransper melalui
indra penglihatan. Sehingga koran masuk pada kelompok media visual (hanya bisa
dilihat saja).
Menurut Hernawan, dkk (2008:11.18) media pembelajaran secara garis besar
dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu :
a.
Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra
penglihatan. Jenis media ini yang paling banyak digunakan oleh guru utnuk
membantu menyampaikan isi atau materi pelajaran.
b.
Media Audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya
dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan
para siswa untuk mempelajari bahan ajar.
c.
Media audiovisual adalah kombinasi dari audio dan visual atau bisa disebut
media pandang dengar.
C.
Metode Pembelajaran
Walaupun dalam penelitian tindakan kelas ini metode bukan sebagai topik
bahasan, namun dalam pelaksanaan pembelajaran metode tidak dapat dilepaskan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran pasti memakai cara atau metode tertentu agar
tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal ini sesuai dengan definisi metode yaitu
sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar
tercapai sesuai dengan yang dikehendaki Santoso, dkk (2008:2.26).
Sekilas penulis akan membahas metode yang mengiringi pelaksanaan perbaikan
pembelajaran yaitu :
1. Metode Ceramah
Agus, (2010) metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode
tradisonal. Karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat
komunikasi lisan antara guru dan anak didik dalam interaksi edukatif.
a. Kelebihan Metode
Ceramah
1)
Guru mudah menguasai kelas.
2)
Mudah dilaksanakan.
3)
Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
4)
Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar.
b. Kekurangan Metode
Ceramah
1)
Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
2)
Anak didik yang lebih tanggap dari sisi visual akan menjadi rudan
anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
3)
Bila terlalu lama membosankan.
4)
Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
5)
Menyebabkan anak didik pasif.
2. Metode Tanya Jawab
Menurut Santoso, dkk (2008:1.19) metode tanya jawab adalah suatu teknik
untuk memberi motivasi para murid agar timbul keberaniannya untuk bertanya atau
menjawab pertanyaan guru selama proses pembelajaran berlangsung.
a.
Tujuannya adalah sebagai berikut
1)
Siswa dapat mengerti dan mengingat kembali materi yang dipelajari, didengar
atau dibaca.
2)
Siswa dapat berpikir secra kronologis atau runtut.
3)
Siswa dapat mengetahui taraf pengetahuan dan pemahamannya.
4)
Siswa dapat memahami bacaan.
b.
Dalam tanya jawab siswa berlatih:
1)
Merumuskan pertanyaan.
2)
Menyebutkan fakta
3)
Menyampaikan opini atau tanggapan.
4)
Mengungkaokan kembali uraian secara runtut.
5)
Menggunakan kata Tanya
6)
Bersikap kritis.
D. Evaluasi
Menurut Mulyati, (2007:8.4) dalam dunia pendidikan dan pengajaran, istilah
evaluasi biasanya berkawan akrab dengan istilah “pengukuran” dan “penilaian”
serta skor” dan “nilai”
1. Tahapan Pelaksanaan evaluasi
dalam pengajaran yakni:
a. Tahap pengumpulan dan
pengolahan data.
Tahap ini
merupakan tahap pengukuran yang akan menghasilkan skor-skor mentah.
b. Tahap Penilaian
Tahap ini
merupakan tahap penilaian yang akan menghasilkan nilai jadi.
2. Teknik evaluasi dapat
dilakukan dengan dua cara yakni:
a. Teknik tes.
Teknik tes digunakan untuk
mengukur pengetahuan dan keterampilan, alatnya berupa tes tertulis, tes
lisan dan perbuatan.
b. Teknik non tes
Teknik non tes digunakan
untuk mengetahui gambaran mengenai karakteristik minat, sikap, kepribadian,
atau sesuatu yang bersifat praktis. Alat tesnya ini dapat dilaksanakan melalui
pengamatan, skala sikap, angket, catatan harian, wawancara, atau ceklist.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN
A. SUBYEK PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu
a. Lokasi
Penelitian ini
dilaksanakan di kelas V SD Negeri 2 Gunungsari UPTD Pendidikan Kecamatan Cimahi
b. Waktu
Pelaksanaan
penelitian dilakukan mualai tanggal 2 Maret 2011 sampai dengan 16 Maret 2011.
TABEL 1
JADWAL PERBAIKAN
PERBAIKAN MATA PELAJARAN
BAHASA INDONESIA
|
No
|
Hari / Tanggal
|
Kegiatan
|
|
1
|
Rabu, 08-01-2020
|
Memunculkan
masalah bersama supervisor2
|
|
2
|
Senin, 13-01-2020
|
Koreksi RPP
siklus 1 oleh supervisor 2
|
|
3
|
Rabu, 15-01-2020
|
Pelaksanaan
Perbaikan Siklus 1
|
|
4
|
Sabtu,18-01-2020
|
Koreksi RPP
siklus 2 oleh supervisor 2
|
|
5
|
Rabu, 22-01-2020
|
Pelaksanaan
Perbaikan Siklus 2
|
2. Mata Pelajaran
Mata pelajaran
yang diteliti adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia (non eksakta).
3. Karakteristik
Siswa
a. Jumlah siswa kelas V Madrasah
Ibtidaiyah Salafiyah Kota Cirebon adalah 14 orang, laki-laki 10 orang, dan
perempuan 4 orang.
b. Kemampuan terhadap penguasaan
pelajaran mayoritas rendah.
c. Latar belakang orang tua
tergolong ekonomi rendah.
d. Berpenampilan sederhana
e. Kurang perhatian dari orang
tua terhadap belajar siswa (tinggal bersama nenek, 3 orang sudah piatu, 2 siswa
orang tuanya berpisah, dan kondisi ekonomi keluarga lemah.
f. Motivasi belajar siswa
rendah.
B. DESKRIPSI PER SIKLUS
1. Siklus Pertama
a. Perencanaan
Sebelum membuat rencana perbaikan, terlebih dahulu penulis bersama
supervisor 2 mengkaji data-data hasil observasi terhadap pelaksanaan
pembelajaran sebelumnya. Data hasil observasi tersebut selanjutnya dianalisis
melalui refleksi untuk menentukan alternatif pemecahan dan merumuskannya. Beranjak
dari kelemahan atau kekurangan itu maka penulis bersama supervisor 2
merencanakan tindakan yang harus dilakukan dalam bentuk rencana perbaikan
pembelajaran.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus 1 dilakukan menurut skenario
yang tercantum dalam rencana perbaikan pembelajaran siklus 1. Dengan bercermin
dari permasalahan pembelajaran dan kekurangan pada proses pembelajaran
sebelumnya maka diadakan perbaikan dalam melakukan tindakan dalam proses
pelaksanaan pembelajaran dengan harapan mempunyai dampak yang lebih baik
terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
c. Pengamatan
Pengamatan/pengumpulan data dilakukan oleh supervisor 2 selama proses
perbaikan siklus pertama berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui kelebihan
dan kekurangannya sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya.
Untuk memperoleh data tentang proses pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan guru, maka supervisor 2 mengunakan jenis observasi terstuktur yaitu
lembar observasi yang sudah memuat instrumen yang akan diamati. Sedangkan untuk
mengetahui hasil belajar siswa maka guru mengadakan tes tertulis diakhir
pelajaran.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan dengan perenungan /introfeksi terhadap diri sendiri
berkenaan apa yang telah dilakukan dalam proses pelaksanaan pembelajaran.
Refleksi dilakukan melalui analisis masalah dan sintetis, serta induksi dan
deduksi. Dengan melakukan refleksi akhirnya dapat mengetahui kelemahan-kelaman
selama proses pembelajaran.
2. Siklus II
a. Perencanaan
Dalam merencanakan perbaikan pembelajaran siklus 2, penulis bercermin dari
hasil perbaikan siklus 1 dengan melihat kekurangan-kekurangan yang masih
terjadi. Refleksi pada siklus 1 sangat membantu untuk melakukan tindakan
selanjutnya. Dengan mengkaji hasil refleksi maka penulis bersama supervisor 2
merencanakan tindakan-tindakan berikutnya yang dituangkan dalam bentuk rencana
perbaikan pembelajaran siklus 2.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus 2 dilakukan menurut skenario
yang tercantum dalam rencana perbaikan pembelajaran siklus 2. Dengan melihat
kekurangan pada proses pembelajaran siklus 1 maka dalam melaksanakan tindakan
pelaksanaan pembelajaran lebih mengoptimalkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan
siswa.
Dalam pelaksanaan pembelajaran masih dilaksanakan pengamatan /observasi
oleh supervisor 2 untuk memastikan apakah masih perlu ada perbaikan yang harus
dilakukan guru lagi atau cukup. Selain itu untuk data hasil belajar siswa dilakukan
tes akhir.
c. Pengamatan
Pengamatan/pengumpulan data pada siklus 2 dilakukan oleh supervisor. Untuk memperoleh
data tentang proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru, masih
menggunakan jenis observasi terstuktur yang dipakai oleh supervisor 2. Lembar
observasi sudah memuat aspek-aspek yang akan dilaksanakan.guru dalam proses
pembelajaran.
d. Refleksi
Setelah dilaksanakan perbaikan ke 2 maka hasil belajar siswa telah
meningkat sesuai harapan. Refleksi dilakukan untuk memastikan pentingnya
penelitian tindakan kelas dan pengaruhnya terhadap perkembangan hasil belajar
siswa.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI PER
SIKLUS
1. Siklus Pertama
a. Perencanaan
Sebelum melaksanakan perbaikan telebih dahulu mengkondisikan seperangkat
persiapan yang meliputi :
1. RPP (Rencana Perbaikan
Pembelajaran) di dalamnya mengandung sejumlah rencana :
-
Tujuan perbaikan yang akan dicapai;
-
Metode yang akan digunakan;
-
Kegiatan yang akan dilaksanakan;
-
Media yang akan gunakan;
-
Menentukan jenis evaluasi yang akan digunakan.
2. Menyiapkan media koran yang
akan digunakan untuk sajian materi.
b. Pengamatan
Data yang dapat kumpulkan selama proses perbaikan pembelajaran yaitu
diperoleh dari hasil obesevasi supervisor 2 dan juga dari catatan guru serta
hasil belajar siswa adalah sebagai berikut :
1. Pada kegiatan awal yang telah
dilakukan guru adalah :
-
Mengecek kehadiran siswa;
-
Mengadakan apersepsi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan;
-
Menyampaikan tujuan perbaikan pembelajaran.
2. Pada kegiatan inti data-data
yang dapat dikumpulkan adalah:
-
Guru menjelaskan materi membaca memindai hanya sekilas;
-
Guru membagikan koran 1 lembar untuk 4 orang sebagai sumber informasi ;
-
Siswa bersama-sama membuka dan membaca teks pada koran dengan teknik
membaca memindai;
-
Guru tidak memberi ketentuan waktu yang singkat pada siswa untuk mengenali
struktur bacaan koran;
-
Guru mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya secara sepat;
-
Ketika siswa mencari jawaban dengan membaca memindai masih terdapat siswa
yang membaca menggunakan penunjuk, pandangan mata bergerak ke kiri dan kekanan
mengikuti kata perkata yang terdapat pada teks;
-
Beberapa siswa dapat menjawaban pertanyaan dengan cepat;
-
Sebagian siswa masih belum dapat menemukan jawaban sampai waktu ditentukan.
3. Pada kegiatan akhir data yang
dapat dikumpulkan yaitu :
-
Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran;
-
Siswa melaksanakan evaluasi dengan batasan waktu yang singkat;
-
Guru memberikan tindak lanjut dengan memberi PR.
4. Data yang berkaitan dengan
prestasi belajar siswa yaitu :
Hasil belajar yang telah dicapai oleh kelas V pada siklus 1 diantaranya
masih terdapat 4 orang siswa yang perolehan nilainya masih rendah di bawah
nilai KKM 65. Hal ini disebabkan karena mereka masih melakukan hal-hal yang
dapat memperlambat membaca memindai. Siswa yang nilainya termasuk katagori
sedang dengan nilai 70 ada 7 orang. Dan yang termasuk katagori tinggi dengan
nilai 80 ke atas ada 3 orang.
c. Refleksi
Setelah melihat hasil belajar siswa pada perbaikan pembelajaran siklus 1
ternyata hasil belajar siswa belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Walaupun
secara keseluruhan rata-rata perolehan kelas telah mencapai target KKM namun
siswa yang mencapai nilai KKM hanya 71 %. Maka dengan demikian penulis bersama
supervisor 2 mengkaji kembali proses perbaikan siklus pertama dengan melakukan
refleksi, akhirnya penulis dapat menemukan kelebihan dan kelemahan diantaranya
adalah :
Kelebihan
-
Guru menyampaikan tujuan perbaikan/pembelajaran dapat memotivasi siswa
dalam belajar;
-
Penggunaan media koran untuk penyajian materi lebih menarik perhatian
siswa.
Kekurangan
-
Pada kegiatan awal guru tidak menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan;
-
Satu lembar koran digunakan untuk 4 orang kurang memadai, sehingga siswa
tidak dapat melakukan membaca memindai dengan baik;
-
Guru hanya sekilas menjelaskan tentang membaca memindai;
-
Guru tidak memberi ketentuan waktu yang singkat pada siswa untuk mengenali
struktur bacaan koran.
2. Siklus II
a. Perencanaan
Yang dipersiapkan
pada perencanaan perbaikan siklus 2 diantaranya :
1) RPP (Rencana Perbaikan
Pembelajaran) dibuat berdasarkan pada hasil kajian pelaksanaan perbaikan siklus
pertama dengan mempertimbangkan segala macam kelemahan yang ada.
2) Menyiapkan media koran
sebanyak jumlah siswa untuk sajian materi.
b. Pengamatan
Hasil
pengamatan/observasi yang dilakukan bersama supervisor 2 pada perbaikan siklus
2 diantaranya :
1) Pada kegiatan awal yang telah
dilakukan guru adalah :
-
Mengecek kehadiran siswa;
-
Mengadakan apersepsi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan;
-
Menyampaikan tujuan perbaikan pembelajaran;
-
Menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan.
2) Pada kegiatan inti data-data
yang dapat dikumpulkan adalah:
-
Guru menjelaskan tentang pengertian membaca memindai beserta
langkah-langkahnya, dan hal-hal yang dapat memperlambat membaca memindai;
-
Guru membagikan materi dari media koran sebanyak jumlah siswa;
-
Guru memberikan waktu 2 menit untuk mengenali struktur bacaan pada koran;
-
Siswa secara bersama-sama membuka dan membaca teks pada koran sesuai dengan
langkah-langkah membaca memindai;
-
Hampir seluruh siswa tidak lagi melakukan hal-hal yang dapat memperlambat
membaca memindai. Misalnya: membaca dengan menggunakan penunjuk, membaca dengan
bersuara, pandangan mata tertuju pada kata demi kata, membaca secara
keseluruhan dengan melambatkan bacaan;
-
Guru mengajukan pertanyaan untuk dicari jawabannya dengan cepat;
-
Siswa serempak mengacungkan tangan untuk memberi jawaban;
-
Siswa yang paling duhulu menemukan jawaban diberi penguatan dengan memberi
rangking 1;
-
Siswa tampak antusias untuk berlomba menemukan jawaban dengan cepat.
3) Pada kegiatan akhir data yang
dapat dikumpulkan yaitu :
-
Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran.
-
Siswa melaksanakan evaluasi dengan ketentuan adanya batasan waktu yang
singkat.
-
Guru memberikan tindak lanjut dengan memberi PR.
4) Data yang berkaitan dengan
prestasi belajar siswa yaitu:
Hasil belajar
pada silus 2 lebih baik dari pada siklus 1. Siswa yang memperoleh nilai di atas
KKM ada 13 orang. Hanya 1 orang yang nilainya rendah yaitu 60. Hal ini yang
menjadi penyebabnya adalah faktor siswa yang masih kurang lancar dalam membaca.
Siswa yang nilainya termasuk katagori sedang ada 4 orang yaitu dengan nilai 70.
Dan siswa yang nilainya termasuk katagori tinggi dengan nilai 80 ke atas ada 9
orang.
c. Refleksi
Dengan mengingat dan mengkaji kembali proses pelaksanaan perbaikan
pembelajaran siklus 2 dan melihat hasil obesrvasi supervisor 2 dan hasil
evaluasi belajar siswa ternyata lebih baik bila dibandingkan dengan siklus 1.
Dalam refleksi pada perbaikan siklus 2 penulis bersama supervisor 2 menemukan
kelebihan yaitu dengan memberikan koran sejumlah siswa dan adanya batasan waktu
yang relatif singkat untuk mengenali struktur bacaan pada koran dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca memindai. Dengan demikian maka yang
harus selalu diingat untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar, media
yang ada di sekitar siswa dapat dijadikan sebagai solusi.
Dari tabel 4 dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa setelah
dilaksanakan perbaikan meningkat dengan baik. Sebelum dilaksanakan perbaikan
hanya 43% siswa yang mencapai nilai KKM dengan nilai rata-rata kelas 60.
Sedangkan pada perbaikan siklus 1 mengalami peningkatan yang cukup baik menjadi
71% dengan nilai rata-rata kelas 69. Walaupun pada siklus 1 nilai rata-rata kelas
melampaui nilai KKM 65, namun jumlah siswa yang mencapai nilai KKM belum
mencapai target 80%. Pada siklus 2 hasil belajar siswa telah sesuai dengan
target yang diharapkan. Dari 14 orang siswa yang telah mencapai nilai KKM
ada 13 orang atau 93% dengan nilai rata-rata kelas adalah 78. Dengan demikian
maka pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Untuk
lebih jelasnya presentase perolehan nilai disajikan dalam grafik.
B. Pembahasan
Perolehan hasil belajar sebelum dilaksanakan perbaikan sampai perbaikan
siklus ke 2 mengalami peningkatan yang baik, walaupun pada perbaikan siklus
pertama siswa yang mencapai nilai KKM baru 71 % masih dibawah target
ketercapaian KKM 80 %.
Dengan menerima masukan dari supervisor 2 tentang kekurangan-kekurangan
yang dilakukan pada siklus 1, maka pada siklus kedua diadakan
perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Pada siklus 2 siswa diberi
penjelasan secara detil tentang hal-hal yang berhubungan dengan membaca
memindai. Ketika membaca memindai siswa melakukannya dengan baik sesuai
langkah-langkah yang ditentukan dengan batasan waktu yang relatif singkat.
Sehingga siswa dapat menemuka menemukan informasi yang ditanyakan secara cepat.
Penggunaan media koran secara efektif dapat menumbuhkan motivasi dalam
meningkatkan kemampuan membaca memindai siswa kelas V. Dengan demikian koran
sebagai media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan tetepi memiliki
fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi
belajar-mengajar yang lebih efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi-fungsi media
pembelajaran menurut Winataputra,dkk (2006:5.9).
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: Cara
meningkatkan kemampuan membaca memindai siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah
Salafiyah Kota Cirebon Kecamatan Cimahi Kabupaten Kuningan melalui
penggunaan media koran adalah menerapkan langkah-langkah membaca memindai
dengan memberikan batasan waktu yang relatif singkat untuk menemukan sejumlah
informasi yang ditanyakan.
Kemampuan membaca memindai siswa kelas V yang dilaksanakan selama dua
siklus perbaikan pembelajaran meningkat dengan baik. Pada siklus I prosentase
ketercapaian KKM 71 % pada siklus 2 meningkat menjadi 93%. Sehingga target
ketercapaian KKM 80% dapat terpenuhi.
B. Saran
Sehubungan dengan kesimpulan
di atas, bila berkenan penyusun menyarankan bahawa dalam proses pelaksanaan
pembelajaran tidak boleh terpaku hanya menggunakan buku sumber yang disediakan
disekolah saja, tetapi harus senantiasa menggunakan media-media yang ada
disekitar siswa. Pemanfaatan media pembelajaran yang ada disekitar siswa dapat
menumbuhkan motivasi dan gairah belajar siswa karena media pembelajaran
memiliki banyak fungsi, sehingga proses belajar-mengajar lebih efektif yang
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar